Thursday, February 25, 2010

mulianya Muhammad s.a.w

"Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang Rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang Rasul. Apakah Jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun, dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur."

                                                                     :: Ali 'Imran : 144 ::
Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam. "Bolehkah saya masuk?" tanyanya. Tapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk, "Maafkanlah, ayahku sedang sakit," kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu.


Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya pada Fatimah, "Siapakah itu wahai anakku?"
"Tak tahulah ayahku, orang sepertinya baru kali ini aku melihatnya," tutur Fatimah lembut. Lalu, Rasulullah menatap puterinya itu dengan pandangan yang menggetarkan. Seolah-olah bahagian demi bahagian wajah anaknya itu hendak dikenang. "Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malaikatul maut," kata Rasulullah, Fatimah pun menahan ledakkan tangisnya. 
 
Malaikat maut datang menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tidak ikut sama menyertainya. Kemudian dipanggilah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap di atas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu dunia ini. "Jibril, jelaskan apa hakku nanti di hadapan Allah?" Tanya Rasululllah dengan suara yang amat lemah. "Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti ruhmu. Semua syurga terbuka lebar menanti kedatanganmu," kata Jibril. Tapi itu ternyata tidak membuatkan Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan. "Engkau tidak senang mendengar khabar ini?" Tanya Jibril lagi.

"Khabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?" "Jangan khawatir, wahai Rasul Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku: 'Kuharamkan syurga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada di dalamnya," kata Jibril. Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan tugas. Perlahan ruh Rasulullah ditarik. Nampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang. "Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini." Perlahan Rasulullah mengaduh. Fatimah terpejam, Ali yang di sampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril memalingkan muka. "Jijikkah kau melihatku, hingga kau palingkan wajahmu Jibril?" Tanya Rasulullah pada Malaikat pengantar wahyu itu. "Siapakah yang sanggup, melihat kekasih Allah direnggut ajal," kata Jibril.
 
Sebentar kemudian terdengar Rasulullah mengaduh, karena sakit yang tidak tertahankan lagi. "Ya Allah, dahsyat nian maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku. "Badan Rasulullah mulai ding!n, kaki dan dada nya sudah tidak bergerak lagi. Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu, Ali segera mendekatkan telinganya. "Uushiikum bis shalati, wa maa malakat aimanuku - peliharalah shalat dan peliharalah orang-orang lemah di antaramu." Di luar pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan.

Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan. "Ummatii, ummatii, ummatiii?" - "Umatku, umatku, umatku"

Dan, berakhirlah hidup manusia mulia yang memberi sinaran itu. Kini, mampukah kita mencintai sepertinya?

Allahumma sholli 'ala Muhammad wa baarik wa salim 'alaihi Betapa cintanya Rasulullah kepada kita.


manisnya iman

Dalam kehidupan setiap umat telah diberikan nikmat iman oleh Allah swt. Dalam mencari kedamaian dan keharmonian hidup seharian,sebagai umat Islam kita mestilah mempunyai prinsip yang murni dan sihat. Tingkatan kenikmatan dan kemanisan iman yang dikecapi oleh seseorang bergantung kepada prinsip hidupnya iaitu kasih kepada Allah dan Rasul-Nya mengatasi segala-galanya disamping kasih kepada manusia,dengan tujuan menuntut keredhaan Allah dan benci kepada kekufuran.

Sebagai manusia yang beriman,perkara kekufuran tidak seharusnya berlaku dalam kehidupan di dunia ini.Manusia yang tidak beriman akan selalu lupa kepada nikmat ciptaan Allah terhadapnya. Manusia yang tidak bersyukur akan menjadi kufur dan lupa akan tujuan mereka dihidupkan di dunai ini sebagai khalifahNya. Rasulallah saw menjelaskan dalam sabdanya yang bermaksud:

”Tiga perkara menyebabkan terasa kemanisan iman,Allah dan Rasul-nya hendaklah dicintai lebih daripada yang lain,mencintai manusia kerana Allah semata-mata dan benci untuk kembali kepada kekufuran sebagaimana bencinya seseorang jika dicampakkan ke dalam api neraka”(Riwayat Al-Bukhari dan Muslim)


Begitu tingginya tahap kemanisan iman yang harus dicapai setiap umat Islam. Mukmin tersebut akan merasai betapa bahagianya hidup menjadi umat Islam yang beriman dan berada dalam ketenangan dan kedamaian,merasai keinginan dan kelazatan lidahnya dengan berzikir mengingati Allah swt. Al-Quran pula sebagai petunjuk yang sentiasa mendidik dan memberi pengajaran kepada semua manusia untuk dapat membentuk keimanan yang sempurna.

Pendidikan iman manusia diterapkan sejak manusia mengenal perkara baik dan buruk. Iman mendidik manusia mengenal dan meyakini adanya perkara-perkara ghaib yang wajib dipercayai melalui rukun iman seperti percaya kepada hari akhirat,qada dan qadar seta syariat Islam. Keimanan antara lain memberi keyakinan bahawa manusia memerlukan pertolongan Allah dalam segala urusan duniawi dan ukhrawi. Iman memberi peringatan mengenai hukum Allah dan kewajipan mentaatinya.

Iman mendidik manusia supaya mencintai Allah dan Rasulullah serta keluarganya(Ahlu Al-bait) dengan membiasakan diri dengan membaca al-quran. Iman memberi motivasi dengan semangat untuk terus tekun berusaha,supaya manusia tidak bergantung kepada takdir semata-mata untuk mencapai kejayaan hidup. Melalui iman yang mantap,ia akan mengingatkan manusia supaya tidak melupakan kepentingan hidup di akhirat ketika hidup di dunia ini. Firman Allah swt yang bermaksud;


”Dan carilah apa-apa yang dikurniakan Allah kepada(kebahagiaan)akhirat dan janganlah kamu melupakan kebahagian dari(nikmat)dunia dan berbuat baiklah sebagaimana Allah berbuat baik terhadapMu” (Al-Qasas:77)
Iman merupakan faktor paling penting yang mendidik dan membentuk sahsiah manusia yang teguh dan berakhlak mulia,berakal budi murni serta memperlihatkan teladan yang baik.